• 16-18 October 2019
  • JI-Expo, Kemayoran

KAI Dukung Jateng Optimalkan Kereta Logistik

Kereta barang milik PT Kereta Api Indonesia. - Antara

Bisnis.com, SEMARANG—PT Kereta Api (Persero) siap mendukung usulan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengoptimalkan pengangkutan barang industri menggunakan kereta api logistik.

Deputy Executive Vice President PT KAI Daop 4 Semarang Daniel Johannes Hutabarat, mengatakan pihaknya siap mendukung rencana Pemprov Jateng untuk mendorong penggunaan KA sebagai jalur utama logistik.Baca juga: Jateng Berencana Optimalkan Distribusi Logistik lewat KA

“Pelayanan logistik jalur KA di Jateng belum menjadi yang utama, [pengusaha] masih mengandalkan truk dan kapal. Padahal kapasitas angkutan kita siap berapapun, dan ada anak usaha langsung yang mengurus, yakni PT Kereta Api Logistik (KALOG),” tuturnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Adapun, wilayah pelayanan Daop 4 Semarang mencakup Stasiun Tegal sebagai batas barat, Stasiun Gundih Kab. Grobogan sebagai batas selatan, dan Stasiun Cepu Kab. Blora sebagai batas wilayah timur.Baca juga: KA Logistik Bidik Pendapatan Rp1,1 Triliun

Daniel menyampaikan dengan bertumbuhnya adanya pusat-pusat industri, KA logistik dapat membantu sisi distribusi hingga ke pelabuhan ataupun bandara. Sejumlah stasiun yang menjadi andalan layanan logistik dan pergudagangan saat ini ialah Stasiun Ronggowarsito di Semarang dan Stasiun Brumbung di Demak.

“Saat ini layanan logistik belum optimal. Padahal kapasitasnya daya angkutnya besar, tetapi muatannya belum mencapai target,” ungkapnya.

Dengan rencana Pemprov Jateng menumbuhkan pusat-pusat industri, KA logistik dapat mengambil peran untuk membantu. Adapun, layanan KALOG mencakup enam bidang, yakni kurir dan kargo,  KA kontainer, bongkar muat, terminal barang, KA non kontainer, dan pergudangan.

KAI juga berencana mengembangkan area kontainer dan pengangkutan logistik dari Stasiun Tawang, Semarang, ke Pelabuhan Tanjung Emas.

Manager Humas PT KAI DAOP 4 Semarang Krisbiyantoro, menyampaikan Jateng memiliki modal yang mumpuni untuk memanfaatkan distribusi logistik melalui KA, karena jalur melingkar yang hampir mencakup seluruh daerah.

“Jalur ini menjadi modal bagi Jateng agar dapat lebih mengoptimalkan prasarana KA untuk aktivitas logistik,” ujarnya.

Saat ini, pemanfaatan KA logistik untuk wilayah barat ialah pengangkutan BBM dari Pertamina Terminal BBM (TBBM) Maos, Kab. Cilacap menuju Pertamina TBBM Tegal. Dalam sehari, ada 6 kali perjalanan.

Selain itu, Holcim juga menggunakan jasa KA untuk pengankutan semen dari Stasiun Brambanan, Solo, menuju Stasiun Brumbung, Demak. Dalam 1 bulan hanya 1 kali bongkar muat dengan jumlah muatan yang tidak tetap.

Setiap bulan, volume angkutan barang KA Daop 4 Semarang mencapai 1.000 ton, atau 12.000 ton per tahun. Namun, pemanfaatannya masih di bawah kapasitas optimal. (lihat tabel)

Dosen Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesi (MTI) Djoko Setijowarno, berpendapat untuk memaksimalkan KA sebagai alat distribusi logistik utama, pemerintah harus mendesain akses hingga pelabuhan.

“Akses ke Pelabuhan Tanjung Emas sampai sekarang belum selesai. Itu dulu yang harus dibereskan. Perlu peran Pemda juga, karena itu lahan pemerintah yang dipakai masyarakat. Bahkan, bisa saja nanti KA juga menjadi akses ke Pelabuhan Kendal,” ujarnya.

Di sisi lain, selain mengandalkan jalur melingkar, desain jalur KA juga harus mencakup kawasan-kawasan industri, seperti Kendal dan Brebes. Akses ke Kendal bisa menjadi perpanjangan dari Stasiun Mangkang, Semarang, sedangkan Brebes perpanjangan jalur dari Stasiun Tanjung.

Untuk mendukung sisi logistik, pemerintah dan KAI pun harus menentukan titik-titik pelabuhan darat atau dry port sebagai area pergudangan. Dengan demikian, seluruh operasional logistik terhubung dengan jalur KA.

Sebelumnya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, menyebutkan kelengkapan infrastruktur di Jateng menarik minat pebisnis untuk investasi dan mendorong kegiatan industri. Namun, salah satu problem yang dihadapi ialah moda angkutan logistik atau barang yang masih mengandalkan jalan raya dan tol.

Idealnya rantai logistik untuk barang dalam jumlah atau ukuran besar dari jalan raya dipindahkan ke rel KA. Jadi, jalur jalan raya khususnya Pantai Utara Jawa (Pantura), hanya untuk kendaraan logistik kelas ringan dan penumpang.

Jateng sebetulnya memiliki kelebihan dibandingkan provinsi lain, yakni memiliki sistem jalur KA yang melingkar (loop), sehingga menghubungkan sisi utara, timur, selatan, barat. Selain itu, jalur tersebut sudah dobel trek.

“Yang saya belum berhasil itu, rantai logistik di jalan raya dipindahkan ke rel, dan kemudian sampai pelabuhan. [Logistik besar] tidak lagi masuk Pantura, karena lama-lama habis sudah jalurnya terpakai,” tuturnya.

Oleh karena itu, sambungnya, Pemprov Jateng akan mencoba mendorong penggunaan KA logistik agar dapat lebih optimal.

Source : https://semarang.bisnis.com/read/20191029/536/1164391/kai-dukung-jateng-optimalkan-kereta-logistik